Umat Diajak Ubah Pola Pikir Atasi Darurat Sampah Lewat Aksi Nyata
BERITALUGAS.WEB.ID — Kesadaran umat dalam menjaga lingkungan kini didorong untuk menjadi bagian integral dari perwujudan iman sehari-hari melaui peluncuran gerakan ekologis di tingkat akar rumput. Langkah ini ditegaskan dalam talk show ekologi yang menekankan pentingnya pertobatan ekologis melalui aksi nyata di tingkat paroki dan masyarakat luas.
Kegiatan bertajuk “Gerakan Paroki Hijau, Implementasi Laudato Si’ dan Gerak Sosial Gereja” tersebut diselenggarakan pada Sabtu (16/5/2026) di Auditorium Lantai 4 Gedung Bonaventura, Kampus 3 Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). Acara yang mengupas tuntas upaya penanganan krisis lingkungan ini merupakan hasil kerja sama Kevikepan Yogyakarta Timur, Kevikepan Yogyakarta Barat, dan UAJY, dengan menghadirkan para pakar serta praktisi lingkungan sebagai narasumber.
Vikaris Episkopalis Kevikepan Yogyakarta Barat, Romo A.R. Yudono Suwondo, yang turut hadir dalam acara tersebut, menyatakan bahwa gerakan ini menjadi momentum penting bagi umat untuk merefleksikan kembali tanggung jawabnya terhadap bumi. Salah satu narasumber, Drs. Kianto Atmojo, M. Si, menegaskan bahwa ajaran gereja mengajak umat untuk mengubah cara pandang dari antroposentris menjadi ekosentris, di mana manusia sadar bahwa mereka adalah bagian dari alam, bukan penguasa yang bebas mengeksploitasinya.
"Menjaga lingkungan menjadi bagian dari iman. Manusia dipanggil untuk merawat bumi sebagai ciptaan Allah," ujar Kianto saat memaparkan materinya di hadapan ratusan peserta.
Lebih lanjut, Kianto menjelaskan bahwa gerakan Paroki Hijau dapat diwujudkan melalui langkah-langkah praktis di dalam gereja. "Pengelolaan sampah menjadi penting, termasuk mengolahnya menjadi pupuk organik yang bermanfaat," tambahnya. Langkah konkret ini bisa dimulai dari hal sederhana seperti pengintegrasian tema lingkungan dalam homili, doa umat, hingga pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dalam setiap kegiatan.
Praktik baik mengenai pengelolaan ini juga dibagikan oleh Fransisca Supriyani Wulandari, S. Pd, perwakilan dari Paroki Maria Marganingsih Kalasan. Fransisca menjelaskan bahwa parokinya telah bergerak menjadi pusat edukasi dengan menerapkan sistem yang sistematis untuk menekan volume pembuangan ke tempat pembuangan akhir.
"Kami mengembangkan konsep 3A, yakni cegah, pilah, dan kelola sampah, agar bisa didaur ulang dan mengurangi pencemaran," ungkap Fransisca. Ia juga menambahkan bahwa parokinya membentuk kader lingkungan yang turun langsung memberikan edukasi dan pelatihan pengolahan sampah ke tengah masyarakat sekitar.
Melihat kondisi wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang saat ini masih kerap menghadapi kendala pembuangan akhir, akademisi Dr. Bernardus Wibowo Suliantoro, M. Hum, menyoroti persoalan sampah sebagai isu moral yang serius karena dampaknya langsung dirasakan oleh kelompok masyarakat rentan. Ia mengingatkan pentingnya melawan pola hidup konsumerisme dan ketidakpedulian yang memicu kerusakan lingkungan.
"Sampah mencerminkan relasi manusia dengan alam. Ini soal tanggung jawab moral dan solidaritas sosial. Lingkungan yang sehat bukan hadiah, tetapi hasil dari komitmen dan kerja bersama," kata Bernardus.
Dampak dari penyelenggaraan kegiatan ini mulai dirasakan langsung oleh para peserta yang hadir, khususnya dari kalangan generasi muda. Melalui edukasi intensif ini, sejumlah peserta mengaku mendapatkan perspektif baru dan mulai tergerak untuk mengubah perilaku konsumsi harian serta lebih bijak dalam memilah sampah rumah tangga demi menciptakan lingkungan tempat tinggal yang lebih sehat dan bersih.
#ParokiHijau #LaudatoSi #DaruratSampahDIY #PertobatanEkologis #UAJY #Yogyakarta #AksiNyataLingkungan
