Berjalan Bersama dalam Iman dan Persaudaraan
Profil Lingkungan Santo Petrus Jetisharjo, Paroki St. Albertus Agung Jetis Yogyakarta.
Menjadi umat dalam sebuah lingkungan bukan sekadar berkumpul untuk menjalankan kegiatan gereja. Lebih dari itu, lingkungan menjadi ruang untuk saling mengenal, berbagi, menguatkan, dan berjalan bersama dalam suka maupun duka.
Semangat itulah yang terus dihidupi oleh umat Lingkungan Santo Petrus Jetisharjo, Paroki Santo Albertus Agung Jetis, Yogyakarta. Di tengah kesibukan dan rutinitas kehidupan sehari-hari, umat berusaha membangun kebersamaan melalui berbagai kegiatan yang mendekatkan satu sama lain.
Pertemuan doa lingkungan yang dilaksanakan setiap dua minggu menjadi salah satu kegiatan rutin umat. Dalam suasana doa dan kebersamaan, umat tidak hanya memanjatkan doa, tetapi juga menemukan kekuatan dari kehadiran satu sama lain. Doa menjadi ruang untuk membawa berbagai pengalaman hidup, harapan, serta pergulatan umat di hadapan Tuhan.
Kebersamaan itu juga diwujudkan melalui kegiatan ziarah bersama. Bagi Ketua Lingkungan Santo Petrus Jetisharjo, Antonius Agung Sulistiawan, ziarah bukan sekadar perjalanan menuju sebuah tempat suci.
“Ziarah bersama adalah perjalanan iman, meninggalkan rutinitas untuk berdoa, bertobat, dan memohon rahmat di tempat suci,” ungkapnya.
Dalam perjalanan ziarah, umat diajak untuk sejenak meninggalkan kesibukan dan rutinitas. Langkah demi langkah menjadi kesempatan untuk semakin mendekat kepada Tuhan. Di sisi lain, perjalanan tersebut juga menjadi gambaran nyata tentang umat Allah yang berjalan bersama menuju keselamatan.
![]() |
| Umat Lingkungan Santo Petrus Jetisharjo melaksanakan ziarah ke Rumah Singgah Maria Melung, Purwokerto, sebagai wujud syukur, doa, dan kebersamaan dalam iman. |
Ziarah bersama menjadi semakin bermakna karena umat tidak berjalan sendirian. Ada kebersamaan, percakapan, tawa, doa, dan pengalaman yang dibagikan sepanjang perjalanan. Dengan demikian, ziarah tidak hanya memperkaya kehidupan iman, tetapi juga mempererat persaudaraan dan solidaritas antarumat.
Belum lama ini, sebanyak 28 umat Lingkungan Santo Petrus Jetisharjo mengikuti ziarah bersama ke Rumah Singgah Maria Melung di Purwokerto. Kegiatan tersebut menjadi salah satu pengalaman iman yang mempertemukan umat dalam suasana kebersamaan dan refleksi.
Semangat persaudaraan juga tampak dalam kepedulian terhadap umat yang sedang sakit. Kegiatan menjenguk umat yang sakit menjadi bentuk sederhana, namun bermakna, dari kasih kepada sesama. Kehadiran, perhatian, dan doa menjadi tanda bahwa tidak seorang pun harus menghadapi pergulatan hidup seorang diri.
“Dalam kebersamaan, kita hadir untuk saling menguatkan,” demikian semangat yang terus dihidupi umat Lingkungan Santo Petrus Jetisharjo.
Selain kegiatan doa, ziarah, dan kunjungan kepada umat yang sakit, lingkungan ini juga mulai merintis kegiatan jalan pagi bersama. Setiap Minggu pagi pukul 06.00 WIB, umat berjalan bersama menyusuri kawasan sekitar Lembah UGM atau Malioboro.
Kegiatan sederhana ini menjadi cara baru untuk membangun keakraban. Sambil menjaga kesehatan dan menikmati suasana pagi, umat memiliki kesempatan untuk berbincang dan mengenal satu sama lain dengan lebih dekat.
“Selain untuk kesehatan, jalan pagi juga untuk mengakrabkan umat,” kata Antonius Agung.
Dari doa yang dipanjatkan bersama, perjalanan ziarah, kunjungan kepada umat yang sakit, hingga langkah-langkah kecil dalam jalan pagi, Lingkungan Santo Petrus Jetisharjo terus belajar menjadi komunitas yang hidup.
Sebab, Gereja tidak hanya dibangun oleh gedung dan kegiatan, tetapi juga oleh umat yang mau hadir, berjalan bersama, dan saling menguatkan. Di Lingkungan Santo Petrus Jetisharjo, iman terus dihidupi dalam kebersamaan—dalam doa, dalam perjalanan, dalam kepedulian, dan dalam setiap langkah persaudaraan.
Penulis: YB Gunawan Kurniawan

