Purna Karya Gereja Santo Yoseph Medari Diteguhkan Lewat Refleksi Kitab Pengkhotbah
![]() |
| Purna karya Gereja Santo Yoseph Medari diajak menjaga keseimbangan hidup melalui pembinaan rohani dan refleksi Kitab Pengkhotbah. |
SLEMAN – Masa lansia tidak harus menjadi fase untuk berhenti berkarya. Para anggota Paguyuban Purna Karya Gereja Santo Yoseph, Medari, diajak menata keseimbangan hidup secara fisik, mental, dan spiritual melalui refleksi Kitab Pengkhotbah.
Pesan tersebut disampaikan Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Sleman, CB. Ismulyadi, SS. MHum, saat melakukan kunjungan pembinaan dan silaturahmi kepada Paguyuban Purna Karya Gereja Santo Yoseph, Medari, Rabu (12/8/2026). Pertemuan berlangsung di Kebon Resto, Brayut, Sleman.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari pendampingan iman yang dilakukan Yustina Hernarita, Penyuluh Agama Katolik, bersama Roberta Sasanatri dari Tim Pendamping Pendampingan Iman Usia Lanjut. Yustina mengatakan pendampingan dilakukan untuk tetap menyapa para purna karya yang telah lama mendedikasikan hidupnya bagi pelayanan gereja dan masyarakat.
“Kami ingin mendampingi dan menyapa para purna karya yang telah lama mendedikasikan hidupnya untuk pelayanan gereja dan masyarakat,” tutur Yustina.
Dalam pembekalan rohani bertema “Menjaga Keseimbangan Diri: Belajar dari Kitab Pengkhotbah”, Ismulyadi mengajak para anggota paguyuban menerima berbagai dinamika kehidupan dengan penuh rasa syukur. Ia mengingatkan bahwa setiap fase kehidupan memiliki waktunya masing-masing, termasuk masa lansia yang dapat menjadi kesempatan untuk menemukan kedamaian batin dan keseimbangan hidup.
“Masa lansia bukanlah waktu untuk berhenti berkarya, melainkan masa untuk menata keseimbangan diri—baik secara fisik, mental, maupun spiritual. Kitab Pengkhotbah mengajarkan kita untuk melepaskan kecemasan dan menikmati berkat hari ini sebagai anugerah langsung dari Tuhan,” ujar Ismulyadi.
Pertemuan berlangsung dalam suasana akrab dan diisi dengan sesi tanya jawab, ramah tamah, serta makan siang bersama. Kehadiran dan pembekalan tersebut mendapat tanggapan positif dari anggota paguyuban.
Salah satu anggota Paguyuban Purna Karya, FX Supardi, menyampaikan bahwa refleksi Kitab Pengkhotbah menjadi pengingat bagi para lansia untuk menjalani masa tua dengan lebih tenang dan tetap berpegang pada iman. “Kami sangat bersyukur dan merasa diteguhkan oleh kehadiran Bapak CB. Ismulyadi. Materi yang disampaikan sangat menyentuh hati kami para lansia,” ungkapnya.
