Pemuda Katolik Bantul Dilantik, Dorong Orang Muda Perkuat Empati Sosial

Daftar Isi

Pemuda Katolik Bantul melantik pengurus 2026–2029 dan mendorong orang muda memperkuat empati sosial, kepemimpinan, serta keterlibatan masyarakat.


BANTUL, 30 Agustus 2026 — Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Bantul melantik kepengurusan masa bakti 2026–2029 dalam rangkaian kegiatan yang dilanjutkan dengan Seminar Nasional bertema “Empati Sosial dan Perspective Taking” di Gereja Santo Paulus Pringgolayan, Bantul.

Maria Galuh Candra Sri Wara P resmi memimpin kepengurusan baru sebagai Ketua Pemuda Katolik Komcab Bantul. Pelantikan dilakukan Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) DIY, Pancratius Rio Mayrolla.

Maria mengatakan kepengurusan baru diharapkan menjadi ruang bagi orang muda untuk mengembangkan kapasitas dan kepemimpinan. Peran tersebut diarahkan agar kader mampu memberi manfaat bagi Gereja dan masyarakat.

Pancratius Rio menilai pelantikan yang diawali Misa bersama umat menunjukkan kedekatan Pemuda Katolik dengan Gereja sekaligus negara. Ia mendorong organisasi tersebut memperkuat peran sebagai organisasi kader yang membentuk generasi muda berkarakter dan memiliki kepedulian sosial.

Dukungan terhadap peran orang muda juga disampaikan Agung Setyawan, S.Hut dari Bagian Kesra Pemkab Bantul yang mewakili Bupati Bantul. Ia menekankan pentingnya kontribusi nyata serta membuka ruang kolaborasi dengan organisasi kepemudaan, terutama dalam menjaga toleransi dan kepedulian sosial.

Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut ke seminar nasional yang menghadirkan tiga narasumber lintas sektor. Anggota DPRD DIY D. Radjut Sukasmoro membahas keterlibatan pemuda dalam politik kemasyarakatan, termasuk isu pendidikan, kesehatan, kemiskinan, serta pentingnya menyampaikan aspirasi berbasis data dan menyaring hoaks di media sosial.

Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UAJY Ranggabumi Nuswantoro, S.Sos., M.A. menyoroti pendidikan pemilih dan kemampuan memahami perspektif pihak lain. Ia juga mengingatkan bahwa media sosial bukan ruang publik yang sepenuhnya netral sehingga persoalan politik membutuhkan dialog dan deliberasi yang lebih substantif.

Sementara itu, praktisi sekaligus pendamping OMK C. Lilik Krismantoro mendorong orang muda menjadi subjek perubahan melalui metode See–Judge–Act atau Melihat, Menimbang, dan Bertindak. Ia mengajak pemuda terlibat langsung di tengah masyarakat melalui kegiatan live in serta mengambil inisiatif sosial dalam isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Pemuda Katolik, Bantul, Pemuda Katolik Bantul, Pemuda Katolik DIY, organisasi kepemudaan, empati sosial, kepemudaan, seminar nasional, Yogyakarta