ASUTENAN Gelar Aksi Solidaritas Karhutla di Titik Nol Kilometer Yogyakarta
![]() |
| ASUTENAN menggelar aksi solidaritas karhutla di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Minggu (25/10/2026), menyerukan pemulihan ekologi dan keadilan lingkungan. |
YOGYAKARTA — Aliansi Strategis untuk Tolak Eksploitasi Alam dan Pembakaran Hutan (ASUTENAN) akan menggelar aksi solidaritas bertajuk “Stop Eksploitasi, Pulihkan Ekologi” di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Minggu (25/10/2026). Aksi yang berlangsung pukul 15.00–18.00 WIB ini menyuarakan kepedulian terhadap masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta tuntutan pemulihan lingkungan.
Aksi tersebut melibatkan mahasiswa, aktivis, akademisi, seniman, dan budayawan di Yogyakarta. Mereka akan menyampaikan solidaritas kepada masyarakat terdampak karhutla di Sumatera, Kalimantan, dan wilayah lainnya melalui pertunjukan seni, orasi, serta pembacaan maklumat.
Koordinator ASUTENAN, Widihasto Wasana Putra, menyatakan gerakan ini mengajak masyarakat melihat karhutla tidak hanya sebagai persoalan pemadaman api, tetapi juga berkaitan dengan pencegahan kerusakan lingkungan, perlindungan masyarakat, dan pertanggungjawaban pihak yang terbukti menyebabkan kerusakan.
Agenda aksi mencakup pertunjukan seni oleh Asrama Mahasiswa Kalimantan, Iwan Wijono, Trio Jago Joko Lisandono, Agus Becak, dan Tejo Badut. Andy SW akan membawakan pantomim, sedangkan Paseduluran Malioboro, Rekki Zakkia, Risang Yuwono, Hendrik Pangkale, dan Sri Khrisna Encik dijadwalkan mengisi musikalisasi puisi.
Acara juga menghadirkan geguritan dari Lembaga Budaya Jawa Sekar Pangawikan bersama Bambang Nur Singgih dan sejumlah penampil lainnya. Pakar hukum lingkungan Dr. Totok Dwi Diantoro dijadwalkan menyampaikan orasi.
Pada akhir kegiatan, peserta akan membacakan “Maklumat dari Jogja Merawat Nusantara”. Maklumat tersebut memuat lima tuntutan, yakni percepatan penanganan kedaruratan dan pelayanan kesehatan bagi warga terdampak, pengusutan penyebab kebakaran secara transparan dan independen, penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab, pembenahan tata kelola hutan dan lahan, serta perlindungan hak masyarakat adat dan lokal atas ruang hidupnya.
Maklumat itu juga mendesak pemerintah memperkuat perlindungan ekosistem gambut, pengawasan perizinan, dan pemulihan lingkungan untuk mencegah bencana serupa berulang.
ASUTENAN mengangkat filosofi Jawa Hamemayu Hayuning Bawono sebagai landasan gerakan untuk menjaga keselamatan dan keharmonisan dunia. Melalui perpaduan seni, orasi, dan refleksi kebudayaan, aksi ini mengajak masyarakat memperhatikan hubungan antara kerusakan ekologis, kemanusiaan, dan keadilan.
