Bekali Pewarta Gereja Hadapi Era Digital, Paroki Jetis Gelar Pelatihan Fotografi dan Jurnalistik
BERITALUGAS.WEB.ID - Meningkatkan kemampuan umat dalam mendokumentasikan serta mewartakan berbagai kegiatan gereja melalui tulisan dan foto menjadi fokus Pelatihan Fotografi dan Jurnalistik Media Gereja Katolik yang digelar di Aula Gereja St. Albertus Jetis, Yogyakarta, Minggu (28/6/2026). Pelatihan diikuti pengurus lingkungan, Komunikasi Sosial (Komsos), Orang Muda Katolik (OMK), katekis, serta umat yang berminat menjadi pewarta gereja.
Narasumber pelatihan, Slamet Riyadi, Jurnalis dan Redaktur Yayasan Basis yang berkarya di Majalah BASIS, Majalah UTUSAN, dan Majalah ROHANI, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman dasar mengenai jurnalistik dan fotografi agar setiap kegiatan di lingkungan, wilayah, maupun paroki dapat terdokumentasikan secara baik dalam bentuk narasi maupun foto.
"Karena saya juga masih belajar, mari kita belajar bersama tentang jurnalistik, terutama komunikasi sosial di gereja. Kita akan melihat sebenarnya jurnalistik itu seperti apa. Mungkin Bapak-Ibu sudah ada yang bergelut di bidang ini, tetapi kita tetap belajar bersama," kata Slamet saat membuka materi.
Dalam paparannya, Slamet menjelaskan bahwa jurnalistik tidak lagi terbatas pada media cetak, tetapi telah berkembang ke berbagai platform digital. Informasi kini didistribusikan melalui media daring, media sosial, video, hingga kanal digital lain yang dapat diakses masyarakat secara cepat.
Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Gereja untuk menghadirkan informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, pewarta gereja perlu memahami prinsip dasar jurnalistik agar mampu menyampaikan informasi yang akurat serta terhindar dari penyebaran hoaks.
"Sebagai bagian dari gereja, bagaimana kita mencari dan menyampaikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, baik data maupun kebenarannya, sehingga kita tidak terjerumus dalam informasi yang tidak benar," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa menjadi anggota Komsos atau pewarta gereja bukan sekadar mengelola media sosial maupun mengunggah dokumentasi kegiatan. Lebih dari itu, tugas tersebut merupakan bagian dari kerasulan melalui media komunikasi.
"Apa yang kita sampaikan melalui website paroki, Instagram, YouTube, maupun media lainnya adalah sarana pewartaan. Berita dari lingkungan, wilayah, atau paroki dapat menjadi sumber informasi yang baik untuk menyebarkan kabar baik," tutur Slamet.
Dalam sesi materi jurnalistik, peserta diperkenalkan pada konsep dasar penulisan berita menggunakan unsur 5W+1H yang meliputi what, who, when, where, why, dan how. Peserta juga diajak memahami penyusunan berita dengan struktur piramida terbalik, mulai dari penulisan judul, lead, isi berita, hingga penutup.
Slamet menekankan bahwa berita gereja harus mengedepankan fakta, membangun persekutuan umat, menyebarkan inspirasi, serta menjadi dokumentasi sejarah perjalanan paroki dan lingkungan.
"Prinsip utama pewartaan adalah fakta yang benar, ditulis dengan baik, dan untuk kebaikan bersama. Apa yang kita wartakan harus mengandung kebenaran, kasih, dan menghormati martabat manusia," katanya.
Selain materi jurnalistik, peserta juga memperoleh pembekalan mengenai teknik wawancara, penyusunan caption foto, serta dasar-dasar fotografi jurnalistik. Menurut Slamet, foto jurnalistik bukan sekadar menghasilkan gambar yang menarik, tetapi mampu menyampaikan fakta dan bercerita secara objektif mengenai suatu peristiwa.
Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan praktik fotografi dan penulisan berita singkat di lingkungan gereja. Setiap peserta diminta mendokumentasikan aktivitas di sekitar lokasi pelatihan, kemudian menyusun berita berdasarkan hasil observasi dan wawancara sederhana. Hasil praktik selanjutnya dibahas bersama sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kemampuan peserta.
Melalui pelatihan tersebut, para peserta diharapkan mampu menjadi pewarta yang semakin terampil dalam mendokumentasikan kehidupan menggereja, sehingga berbagai kegiatan pelayanan di lingkungan, wilayah, maupun paroki dapat tersampaikan kepada umat secara informatif, akurat, dan menginspirasi. Dokumentasi yang baik juga diharapkan menjadi rekam jejak perjalanan Gereja sekaligus sarana pewartaan yang menjangkau masyarakat lebih luas melalui media digital.
