Hasto Wardoyo: Layani Masyarakat dengan Empati, Bukan Emosi
![]() |
| Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengajak aparatur menerapkan nilai Pancasila melalui empati dan pelayanan publik yang lebih manusiawi. |
KOTA YOGYAKARTA — Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo meminta aparatur pemerintah tidak berhenti memahami Pancasila sebagai dasar negara, tetapi menerapkannya dalam tindakan, termasuk saat memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Hasto saat menjadi inspektur Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Balai Kota Yogyakarta, Kamis (1/10/2026). Peringatan tahun ini mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”. Tema tersebut juga menjadi tema resmi peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2026.
Menurut Hasto, penerapan nilai Pancasila dalam pelayanan publik membutuhkan kemampuan aparatur memahami kondisi masyarakat yang dilayani. Nilai kemanusiaan, kata dia, salah satunya diwujudkan melalui empati dan kesediaan melihat persoalan dari sudut pandang orang lain.
“Pancasila harus in action dalam tindakan, tidak hanya dalam ucapan,” kata Hasto.
Ia mencontohkan pelayanan di organisasi perangkat daerah, kemantren, dinas kesehatan, dinas sosial, hingga layanan perizinan. Aparatur diminta tidak mudah terbawa emosi ketika menghadapi masyarakat yang menyampaikan keluhan atau memberikan respons yang tidak menyenangkan.
Hasto juga mengaitkan penerapan sila pertama dengan sikap aparatur dalam menjalankan tugas. Menurut dia, pelayanan kepada masyarakat seharusnya tetap dilakukan dengan sikap yang baik tanpa membedakan karakter atau respons orang yang dilayani.
Selain pelayanan publik, Hasto menekankan pentingnya musyawarah dan sikap legawa ketika pendapat seseorang tidak menjadi keputusan bersama. Ia menilai perbedaan pendapat merupakan bagian dari proses musyawarah yang harus diterima dengan mengutamakan kepentingan masyarakat.
Hasto kemudian mengaitkan nilai Pancasila dengan semangat gotong royong di Kota Yogyakarta. Ia menyebut gerakan Segoro Amarto dan kegiatan bedah rumah sebagai contoh penerapan nilai tersebut dalam tindakan bersama.
Ia mengatakan kegiatan gotong royong bedah rumah terus dilakukan dan menargetkan sedikitnya 200 rumah dapat dibedah hingga akhir 2026. Dalam bahan pidatonya, Hasto menyebut kegiatan tersebut dilakukan melalui gotong royong tanpa mengandalkan anggaran pemerintah.
Menjelang Hari Jadi ke-270 Kota Yogyakarta, Hasto juga mengajak jajaran Pemerintah Kota Yogyakarta memperkuat kegiatan gotong royong. Ia menyampaikan rencana charity night bersama Baznas untuk membantu warga yang membutuhkan dukungan dalam bidang perumahan, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan lainnya.
Upacara tersebut sekaligus dirangkai dengan penyerahan penghargaan kepada para pemenang Lomba Olimpiade Demokrasi Pelajar, dan Gender Champions Award tingkat Kota Yogyakarta.
.jpeg)