RS Pratama Kota Yogyakarta Edukasi Warga tentang Gejala dan Pencegahan TBC
![]() |
| RS Pratama Kota Yogyakarta mengedukasi warga tentang gejala, penularan, pemeriksaan, pencegahan, dan pengobatan TBC hingga tuntas. |
YOGYAKARTA - RS Pratama Kota Yogyakarta memberikan sosialisasi tentang tuberkulosis (TBC) kepada warga yang berada di lingkungan rumah sakit, Sabtu (15/8/2026). Materi yang disampaikan mencakup gejala, penularan, kelompok berisiko, pemeriksaan, pencegahan, dan pengobatan TBC.
TBC merupakan penyakit menular yang paling sering menyerang paru-paru. Namun, penyakit tersebut juga dapat menyerang organ lain, antara lain kelenjar getah bening, tulang, otak, dan kulit. TBC bukan penyakit keturunan, melainkan dapat menular dari satu orang ke orang lain.
Penularan dapat terjadi ketika seseorang menghirup udara yang mengandung kuman dari pasien TBC, terutama saat pasien batuk dan mengeluarkan percikan dahak. Risiko berkembang menjadi TBC dapat meningkat ketika daya tahan tubuh seseorang menurun.
Gejala yang perlu diwaspadai meliputi batuk terus-menerus, baik berdahak maupun tidak, demam atau meriang berkepanjangan, sesak napas, penurunan berat badan, batuk berdarah, nafsu makan menurun, serta berkeringat pada malam hari tanpa melakukan aktivitas. Warga yang mengalami gejala tersebut dianjurkan memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit.
Sosialisasi juga menyoroti sejumlah kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terkena TBC, seperti anak yang tinggal serumah dengan pasien, orang dengan HIV/AIDS, lanjut usia, penyandang diabetes melitus, perokok, serta orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC. Kontak serumah dengan pasien dapat memperoleh terapi pencegahan sesuai penanganan yang diberikan.
Pemeriksaan TBC dapat dilakukan melalui Tes Cepat Molekuler (TCM). Materi sosialisasi menyebut sejumlah puskesmas di Kota Yogyakarta telah menyediakan pemeriksaan tersebut, di antaranya Puskesmas Tegalrejo, Puskesmas Gondokusuman, dan Puskesmas Kotagede. Fasilitas yang belum memiliki layanan TCM dapat mengarahkan pemeriksaan ke fasilitas lain.
Dari sisi pencegahan, warga dianjurkan menutup mulut ketika batuk atau bersin, menggunakan masker bagi pasien, serta memastikan rumah memiliki ventilasi udara yang baik. Langkah tersebut menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko penyebaran kuman di lingkungan sekitar.
Pengobatan TBC diberikan selama enam bulan dengan tahap awal dua bulan dan tahap lanjutan empat bulan. Materi sosialisasi menekankan kepatuhan pasien menjalani pengobatan sesuai ketentuan. Pengobatan TBC juga disediakan secara gratis oleh pemerintah melalui fasilitas pelayanan kesehatan.
Obat antituberkulosis dapat menimbulkan efek samping pada sebagian pasien, antara lain nafsu makan menurun, mual, sakit perut, sakit sendi, kesemutan, gatal-gatal, serta perubahan warna air seni menjadi kemerahan. Efek tersebut tidak selalu muncul pada setiap pasien dan dapat berbeda pada masing-masing individu.
Pasien TBC juga diingatkan tidak perlu dikucilkan. Dukungan dari lingkungan diperlukan agar pasien tetap menjalani pengobatan hingga tuntas. Materi sosialisasi menekankan bahwa kondisi tubuh yang mulai membaik bukan alasan untuk menghentikan pengobatan sebelum waktunya.
