Isu Kristenisasi Jadi Tantangan Penyaluran Bantuan Bencana

Daftar Isi
Prasangka kristenisasi dinilai masih menghambat penyaluran bantuan kemanusiaan dan menyulitkan lembaga sosial menjangkau korban bencana di Indonesia.

YOGYAKARTA – Prasangka kristenisasi masih menjadi tantangan bagi lembaga kemanusiaan dalam menyalurkan bantuan kepada korban bencana. Kecurigaan terhadap motif keagamaan bahkan dapat membuat bantuan yang dibutuhkan dalam kondisi darurat sulit diterima masyarakat.

Persoalan tersebut disampaikan Dosen Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma (USD), Romo Dr. Martinus Joko Lelono, dalam webinar Ikatan Alumni Filsafat Teologi (IKAFITE) USD, Kamis (10/9). Paparan itu merujuk pada penelitian terhadap pengalaman dua lembaga tanggap bencana, yakni KARINA dan YAKKUM Emergency Unit.

Romo Joko mengatakan, prasangka kristenisasi dapat mempersempit ruang gerak lembaga kemanusiaan ketika menjangkau dan melayani korban bencana. Kondisi tersebut membuat kerja kemanusiaan tidak hanya menghadapi persoalan teknis di lapangan, tetapi juga kecurigaan yang berkaitan dengan identitas keagamaan.

Menurut dia, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan memperdebatkan benar atau tidaknya tuduhan kristenisasi. Penyebab muncul dan bertahannya prasangka dalam hubungan antarumat beragama juga perlu ditelusuri.

“Solidaritas kemanusiaan” tidak semestinya terhambat oleh perbedaan identitas agama, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi bencana dan membutuhkan pertolongan segera. Dialog serta keterbukaan antarkelompok dinilai penting untuk membangun kepercayaan dalam penyaluran bantuan.

Persoalan serupa dibahas dari perspektif sosial politik dan tradisi intelektual Islam oleh Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), F.X. Bambang Kusuma Prihandono, serta akademisi Prof. Dr. Moch. Nur Ichwan.

Diskusi tersebut menegaskan bahwa isu kristenisasi tidak dapat dilihat hanya sebagai persoalan internal umat Kristen atau Katolik. Prasangka terhadap lembaga kemanusiaan juga berkaitan dengan konteks relasi sosial, sejarah, politik, dan dinamika kehidupan keagamaan di Indonesia.

Dalam konteks kebencanaan, persoalan tersebut menjadi penting karena bantuan harus dapat menjangkau korban tanpa terhambat oleh kecurigaan berbasis identitas. Penanganan bencana pada akhirnya membutuhkan kepercayaan dan kerja sama berbagai kelompok untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.